Posts

Featured post

Bila Ajal Itu Tiba

Image
ARTIKEL KE 696  Mari berandai-andai Tulisan lalu juga saya berandai-andai, andaikan ajal tiba betapa ruginya kita yang kala hidup banyak kawan tapi pada saat meninggal tak ada yang bersedia menshalatkan jenazah kita...
Kali ini saya masih berandai-andai...(karena cepat atau lambat kita semua akan mengalami yang namanya mati)..
Jika saja seorang manusia meninggal dunia... Ketika ia menyadarinya kalo rohnya berpisah dengan jasad, ia melihat sesosok cahaya mendekati dirinya dengan sambil memegang sebuah koper di tangannya.


Sesosok cahaya itu berkata, "Mari kita pergi." Dan sang arwah begitu kebingungan tak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa berucap. "Begitu cepat? Tapi sebenarnya saya masih memiliki banyak rencana." Cahaya itu bersikeras dan berkata "Maaf, waktumu sudah habis, saatnya untuk pergi." Akhirnya si arwah pasrah. Tapi penuh rasa ingin tahu diperhatikannya apa yang dipegang sesosok cahaya itu dan bertanya"Apakah isi koper yang dipegang itu?" Se…

Paling Dicari Jaman Now !

Image
ARTIKEL KE 695  Most Wanted !!Mungkin ada yang bertanya-tanya apa sih yang paling dicari jaman kekinian alias jaman now? Kalo dijawab uang, rezeki, harta benda, jabatan, kedudukan, pengaruh mungkin hanya dibutuhkan saat kita hidup. Saat kita mati semua itu putus.. Uang tak dibawa, rezeki terputus (tibanya ajal berarti rezeki kita sudah diterima semua), harta benda, jabatan kedudukan dan pengaruh semua kita tinggalkan..
Yang kita bawa hanya catatan amal yang kita gak tau pasti apakah rapornya hijau atau merah. Hanya satu kata yang melekat pada kita saat itu, bukan gelar akademis, bukan pula gelar kebangsawanan tapi gelar almarhum / almarhumah. Dan satu hal yang membuktikan ketiadaan kita di bumi adalah diterbitkannya Surat Kematian oleh pihak yang berwenang.
Bayangkan masa itu tiba....


Tubuh kita yang kaku terbungkus kain kafan dibaringkan di tengah rumah...
Di luar rumah telah berdiri tenda megah dengan AC, agar para pelayat merasa nyaman...
Tampak karangan bunga berjejer mengitari rumah d…

Baca Ini Wahai Pecandu Ponsel !

Image
ARTIKEL KE 694  PECANDU PONSEL ‼Hari gini gak ada orang yang gak punya ponsel alias telepon seluler. Bahkan balita dan anak-anak pun punya. Mereka kadang sangat ahli memainkannya dari orang dewasa. Ada salah seorang keponakan saya yang masih balita, gak bisa tidur tanpa main ponsel dulu. Ponsel adalah produk paling laris dan paling digemari jaman now. Ada yang punya lebih dari satu seolah tak puas jika hanya punya sebuah ponsel saja. Salah satu penyakit dari gadget ini adalah mampu bikin kecanduan. Semua orang jadi gak bisa hidup tanpa ponselnya. Yang lain boleh lupa tapi jangan sampe lupa ponsel. Dunia bakal jadi membosankan dan tanpa makna bila tanpa ponsel di tangan. Begitu besarnya candu ponsel ini...

Imam Masjidil Al Haram Asy-Syaikh Su’ud asy-Syuraim dalam sebuah Khutbah Jumat pernah berkata: "Adakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya aplikasi media sosial semacam WhatsApp, Facebook, Instagram dan yang lainnya dalam kehidupannya ?" …

Kopi Boleh Pahit, Rumah Tanggamu, Jangan !

Image
ARTIKEL KE 693 RUMAH TANGGA IBARAT KOPISemua pasangan ingin rumah tangganya menjadi rezeki baginya menjadikan rumahnya sebagai surganya. Tapi mencapai itu tidak mudah. Butuh usaha dari kedua belah pihak untuk meramu pernak pernak kehidupan agar enak dinikmati.
Karena berumah tangga itu ibarat ngopi. Takarannya gak melulu pas. Kadang manisnya lebih terasa, suatu waktu pahitnya pun dominan. Ini seringkali gak bisa dihindarkan sehingga kita gak punya pilihan kecuali menikmati saja, sampai suatu ketika kau pun jadi terbiasa.



Ketika rumah tangga sudah jadi candu bagimu, maka percayalah bahwa gak ada regukan yg lebih nikmat di luar sana. Karena kamu udah kecanduan dan kesenangan berada dalam rumah. Yup, rumah tangga itu ibarat ngopi.
Harga kopi di kafe kelas atas tentu beda dengan harga kopi di warung sebelah, meski kalo sudah dilarutkan dalam cangkir rasanya gak jauh beda.
Karena manusia jaman now yang dibeli bukan semata-mata kopinya, melainkan suasananya (baca : rezeki dalm secangkir kopi)

Ayah, Ingatlah Ini!

Image
ARTIKEL KE 692Pesan buat para ayah..Akhir-akhir ini saya sangat suka sekali menulis tentang ayah. Karena ayah bisa menjadi rezeki dan bisa menjadi bencana bagi keluarganya. Banyak hal yang harus ayah renungkan, banyak hal yang harus ayah pelajari, kalo keluarga tidak butuh ayah jika hanya berfungsi untuk mencari rezeki/nafkah. Fungsi ayah jauh lebih penting dari itu. Allah membagikan rezeki keluarga lewat rezeki para ayah. Dan ayah harus mendayagunakan rezeki itu agar bermanfaat bagi diri dan keluarganya...

Sesungguhnya, hanya ada 2 agama di dunia ini : 1. AGAMA ALLAH : Fitrah manusia dalam penciptaannya untuk selalu mencari Tuhan. Ingat bagaimana kisah nabi Ibrahim as yang tak kunjung lelah mencari Tuhan? Karena itu fitrah manusia, sudah ada dalam sel yang merupakan unit terkecil dari tubuh manusia.
2. AGAMA ORANG TUA : Agama yg diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Hati-hati dengan hal ini. Boleh jadi, orang tua adalah 'penjahat' pertama bagi anak manusia, karena doktrin '…

PENJUAL YANG BIKIN KANGEN

Image
ARTIKEL KE 691PENJUAL YANG NGANGENIN Saya udah sering menulis di blog ini kalo mau banyak rezeki kudu usaha mendekati Sang Pemilik Rezeki dan kalo mau kaya kudu usaha alias mau jualan. Jualan apa aja asal bukan "jual body", masih banyak kok produk halal yang bisa dijual. Lagi pula body dikasi agar bisa mendukung ibadah kita kepadaNYA bukan malah dipake maksiat.
Anyway tulisan kali ini fokus gimana caranya dapat rezeki dari jualan dengan jadi penjual yang ngangenin. Bukan karena tampang yang diimut-imutin, bukan dengan cara-cara genit yang menghalalkan segala cara, bukan dengan rayuan gombal tanpa makna.. tapi lebih dari sekedar strategi "fisik" .


Anda sudah tau kan prinsip penjualan ?
Kalo belum...sini saya kasi tau.. Ta gak sih kalo 83% pembelian terjadi karena pembeli suka dengan penjualnya. Ini bukan kata saya lho, tapi hasil survey yang dilakukan sebuah perusahaan untuk melihat reaksi konsumen terhadap produk mereka. 
Mau tau alasannya kenapa? Karena yang 83% konsume…

Untuk Ayah Renungkan

Image
ARTIKEL KE 690  BIAR KU BAYAR AYAH...   Saya terhenyak membaca kisah ini bagaimana seorang anak antusias mengumpulkan uang untuk membayar ayahnya...semoga bisa jadi renungan buat kita, khususnya para ayah...


Kisah ini dimulai ketika seorang ayah pulang kantor dalam keadaan letih, lelah dan penat luar biasa. Dengan sudut mata dilihatnya anak laki- lakinya yang berumur 4,5  tahun dengan riang menyambutnya di depan pintu.
Seperti biasa ia akan melontarkan banyak pertanyaan. Rasa ingin tahunya memang luar biasa besar. Anak : "Ayah boleh aku tanya sesuatu?"
Kata si anak sambil menatap wajah ayahya yang nampak kuyu.
Ayah : "Tentu nak, ada apa?"
Meski lelah luar biasa, si ayah tetap berusaha memperhatikan apa yang dibicarakan si kecil. Kemudian dengan nada tinggi si anak bertanya lagi.
Anak : "Ayah kok pulang kerja malam terus, berapa duit yang ayah dapat tiap hari ?"
Ayah : "Itu bukan urusanmu nak, kenapa kamu tanya itu?" (jawab Ayah sedikit kesal, kok anak…